
Solo International Contemporary Ethnic Music Festival 2010
07 - 11 Juli 2010
Jam: 20.00 - 23.00 WIB
Venue : Stadion Sriwedari Surakarta
SIEM Festival 2010 atau Solo International contemporary Ethnic Music Festival 2010, event dua tahunan yang menitikberatkan capaian musik etnik musisi nasionalmaupun internasional. Kali pertama SIEM diselenggarakan tahun 2007 di Benteng Vastenburg Solo. Tidak hanya masyarakat, media massa, baik dalam maupun luar negeri memberikan apresiasi. Kepuasan tampak pula para musisi, pada umumnya tidak menduga SIEM mampu menyedot puluhan ribu penonton, bahkan beberapa musisi merasa canggung di atas panggung SIEM. Tahun 2008, SIEM kembali hadir di Pamedan Pura Mangkunegaran Solo, mengulang sukses di tahun pertama.
Lebih dari 50 grup musisi nasional dan internasional tampil pada SIEM pertama maupun kedua, ada keragaman dan perubahan perkembangan musik etnik. Musik etnik yang selama ini dipandang sebelah mata dan kuno, atau oleh Rahayu Supanggah (kurator SIEM 2008) dikatakan underistimate, perkembangannya pada jalur kontemporer justru mengejutkan. Kesenian termasuk musik, dalam masyarakat mempunyai posisi, fungsi dan pemaknaan yang lekat dengan kebutuhan estetika, etika, spiritualitas, identifikasi, komunalitas dan juga ekonomi. Eksistensi musik dapat dilihat dari kedudukannya sebagai teks dan konteks di dalam masyarakat (Shin Nakagawa 2000). Musik bukan hanya ekspresi bunyi (teks), menghibur atau tontonan. Melainkan musik sebagai ruang pembacaan kritis tentang identitas, tradisi, modernitas dan sejarah musik (konteks).
SIEM 2010 akan hadir di tengah-tengah masyarakat nasional maupun internasional. Jika SIEM 2007 dan 2008 bagian proses mencari dan menemukanformat festival, maka SIEM 2010 pada pematangan konsep dengan mengutamakan kualitas musikal. Dalam konteks kualitatif, komunikasi dan informasi berbagai hal tentang Solo akan dilakukan. Deskripsi antropologis diharapkan memperkaya referensi dan inspirasi para musisi atau menjadi medan pergulatan dimana berbagai kutipan dan referensi bergabung, berbenturan dan berpadu. Apabila langkah ini benar, maka SIEM tidak terjebak sekedar memobilisasi musik etnik dari negara satu ke yang lain atau migrasi dari kota ke kota. Selain interaksi multi kultur diperlukan, Solo sebagai tempat lahirnya SIEM menjadi ruang pembacaan teks maupun konteks para musisi, dengan kata lain Solo sumber inspirasi kreatif musisi nasional maupun internasional. (siemfestival.com)









